Jual Daun sambiloto kering Siap Pakai
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Minggu, 06/04/2014 09:53 WIB Info Penyakit Info Obat Astigmatisma Deskripsi Penyebab Gejala Pengobatan Alzheimer Deskripsi Penyebab Gejala Pengobatan Alkoholik Deskripsi Penyebab Gejala Pengobatan Atropine Deskripsi Indikasi Dosis Komposisi Ambroxol 15 mg/5ml Syrup Deskripsi Indikasi Dosis Komposisi Atenolol Deskripsi Indikasi Dosis Komposisi Foto: Ilustrasi (Thinkstock) Berita Lainnya Ria Irawan Idap Kanker Kelenjar Getah Bening Stadium 3, Separah Apa? Kanker Kelenjar Getah Bening, Haruskah Rahim Diangkat Seperti Ria Irawan? Sedang Galau? Yuk, Ikut Cek Kesehatan Jiwa Gratis di Monas Pendaftaran Peserta JKN Tutup Akhir Desember 2014? Ini Kata Pihak BPJS BPOM Siapkan Aturan Soal Bahaya Rokok Elektrik Jakarta, Ketika membicarakan tanaman obat yang dijadikan bahan baku obat herbal untuk mengobati penyakit, biasanya yang terlintas di pikiran banyak orang adalah kata 'pengobatan alternatif'. Padahal belum tentu seperti itu. Diungkapkan Kepala Poliklinik Komplementer Alternatif RSU Dr. Soetomo, Surabaya, dr Arijanto Jonosewojo, SpPD FINASIM obat herbal bisa digunakan untuk pengobatan alternatif dan pengobatan komplementer. Pengobatan komplementer adalah pengobatan yang tidak meninggalkan pengobatan konvensional yang sudah dipakai. Misalnya pada pasien kanker, pengobatan yang dilakukan tergantung kasusnya yakni melalui radioterapi, bedah, atau kemoterapi. "Kalau pasien tetap melakukan tiga terapi tadi ditambah herbal itu komplementer. Tapi kalau dia hanya mau pakai herbal saja itu alternatif. Untuk dokter bukan alternatif yang dipakai karena menggantikan. Tapi kita menggunakan complementary medicine yang sifatnya melengkapi," jelas dr Arijanto. Pemaparan itu disampaikan dr Arijanto di sela-sela Press Conference The 1st Natural Wellness Symposium hasil kerja sama IDI dan SOHO Global Health di Ritz Carlton Kuningan Hotel, Mega Kuningan, Jakarta Selatan dan ditulis pada Minggu (6/4/2014). dr Arijanto menuturkan layanan kedokteran komplementer alternatif dilakukan oleh dokter sebagai pilihan selain kedokteran konvensional. Pilihan pengobatan pun merupakan hak si pasien. Namun, tetap menjadi kewajiban dokter memperhatikan aman atau tidaknya penggunaan obat herbal yang dipilih pasien. "Tapi ada juga yang tidak mau pakai herbal tapi di obat kemoterapinya ada kandungan daun tapak dara. Atau obat antiviral bahan bakunya daun sambiloto. Ini kan awalnya herbal yang diteliti, lalu direkayasa dan disintesis," imbuh dokter yang juga mengajar di Universitas Airlangga Surabaya ini. dr Arijanto menekankan dokter bukannya menolak pemakaian obat herbal tetapi dokter terikat dengan undang-undang kedokteran yang mana dokter tidak diperbolehkan memakai obat-obatan yang belum memiliki evidence base. "Sekarang dekan dari beberapa fakultas kedokteran juga sedang menggodok rencana memasukkan mata kuliah obat herbal ke dalam kurikulum untuk mempelajari bagaimana memakai herbal yang aman berdasarkan indikasi dan gimana penyesuaiannya kalau dipakai dengan obat kimia," kata dr Arijanto. (rdn/vit) Artikel detikHealth juga bisa dibaca melalui aplikasi detikcom untuk Android, BlackBerry, iPhone, iPad & Windows Phone. Install sekarang! Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini $(function(){ $.getJSON('http://comment.detik.com/v1.1/?callback=?',{ idnews:'2546843', idkanal:'763', thn:'2014', bln:'04', tgl:06, limit:1, format:'jsonp' },function(response){ $('
